UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) menjadi panggung pembuktian bagi Muhammad Bari’us Salam. Wisudawan Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) yang akrab disapa Bari ini kembali mengukir tinta emas dengan menyandang predikat Wisudawan Terbaik S2 Pascasarjana, setelah sebelumnya sempat meraih predikat Mahasiswa Terbaik S1 PBA pada wisuda Februari 2025 lalu.
Petuah Dosen dan Kelanjutan Studi Tanpa Jeda
Keberhasilan Bari menuntaskan studi S2 dengan hasil amat memuaskan tidak lepas dari momen emosional pasca-sidang skripsi S1-nya. Kala itu, dosen pengujinya, Dr. Mahfudz Shiddiq, M.A., langsung menginstruksikannya untuk tidak membuang waktu dan segera mendaftar ke jenjang magister.
Hanya berselang kurang dari lima hari setelah lulus S1, Bari mantap melanjutkan studi ke Magister PBA UIN Walisongo. Keputusan ‘tanpa jeda’ tersebut terbukti tepat. Selama menempuh S2, Bari mendapatkan beasiswa bebas biaya kuliah, sehingga ia bisa fokus mendalami keilmuan tanpa membebani orang tua untuk biaya pendidikan dasar.
Inspirasi akademisnya makin melesat saat dosen lainnya, Dr. Naifah, M.S.I., mendorongnya mengikuti International Student Mobility. Momen ini mengantarkan Bari menjadi presenter karya ilmiah sekaligus pengajar di City University Malaysia.
Keseimbangan Teori, Pengabdian Masjid, dan Prinsip Belajar
Meski berprestasi di kancah internasional dan meraih predikat terbaik, Bari tidak memilih mengurung diri di menara gading akademis semata. Selama studi S2, ia aktif mengabdi di lingkungan masyarakat sekitar rumahnya sebagai Imam, Khatib, dan pendamping pengurus masjid.
“Teori semata di dalam kelas tidak akan mampu membekali kita saat turun di dunia nyata kelak jika tidak dibersamai dengan kegiatan positif dan produktif di masyarakat,” ungkap Bari.
Dalam proses belajar, Bari mengaku bukan tipe mahasiswa yang memaksakan diri belajar setiap hari. Namun, ia memegang satu komitmen belajar yang sangat ketat: pantang melanjutkan langkah sebelum benar-benar menguasai materi yang sedang dipelajari. Prinsip ini ia padukan dengan penyusunan tesis ilmiah berdimensi keislaman, di mana temuan penelitiannya senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan kemaslahatan umat.
Dukungan Keluarga dan Pesan bagi Generasi Muda
Bagi pria asal keluarga agamis dan berlatar belakang pendidikan tinggi ini, gelar wisudawan terbaik bukan sekadar ajang kebanggaan pribadi, melainkan bukti nyata dari potensi diri serta besarnya support system dari keluarga dan para dosennya. Kedua orang tuanya menjadi role model utama dalam menjalani kehidupan, sementara kesederhanaan dan dedikasi para dosen menjadi pemantik semangat studinya.
Setelah resmi menyandang gelar magister, Bari berencana memantapkan kapasitas dirinya dengan mengabdi sebagai pengajar dan pembimbing di sekolah berbasis Islami sebelum melangkah ke jenjang doktor (S3).
Menutup pembicaraannya, Bari menitipkan pesan mendalam bagi para adik tingkat di UIN Walisongo agar senantiasa menjaga amanah dan harapan keluarga.
“Jangan membuang-buang potensi yang dimiliki dengan hanya berfoya-foya dan bersenang-senang semata. Selalu ingat ada keluarga yang menaruh harapan besar kepada kita. Percayalah pada takdir Tuhan, berikan yang terbaik, dan jangan pernah takut untuk gagal,” tutur Bari penuh haru.


