Dari Bersihkan Rumah Dosen Hingga Barista: Yuda Agustian, Anak Buruh Tani Tasikmalaya Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Perhelatan Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3, Sabtu (22/8/2026), diwarnai oleh deretan kisah perjuangan yang menggetarkan hati. Di antara ribuan wisudawan, nama Yuda Agustian (Yudha) menyita perhatian publik atas ketangguhannya menembus berbagai keterbatasan hingga berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dengan IPK 3,94.

Berjuang Mandiri dari Pelosok Tasikmalaya

Berasal dari kampung pelosok di Tasikmalaya, Jawa Barat, Yuda tumbuh besar bersama kakek dan neneknya. Orang tuanya bekerja sebagai buruh lepas dan petani dengan latar belakang pendidikan sekolah dasar. Mengingat kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, Yuda membulatkan tekad untuk merantau dan membiayai seluruh kebutuhan kuliahnya secara mandiri.

Perjalanan studinya di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dipenuhi liku-liku tajam. Pada semester awal, Yuda bahkan harus rela tidak aktif berkuliah selama satu semester penuh demi bekerja full-time di toko ritel Alfamart untuk mengumpulkan modal studi.

“Bagi saya, keterbatasan bukan penghalang untuk berkembang, melainkan ruang belajar yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh. Gelar ini adalah representasi dari setiap pekerjaan yang saya jalani sambil kuliah dan setiap malam ketika saya harus memilih antara istirahat atau terus berjuang,” ungkap Yuda penuh haru.

Demi bertahan hidup dan membayar UKT di tanah rantau, Yuda melakoni berbagai pekerjaan paruh waktu. Mulai dari menjadi instruktur Pramuka di SDN Wonosari 03 selama 2,5 tahun, barista kedai kopi, tentor bimbel di Yayasan Binterbusih, kurir antar-jemput, hingga membantu membersihkan rumah dosen.

Uluran Tangan dan Prestasi yang Melampaui Batas

Perjuangan pantang menyerah Yuda mengetuk hati banyak orang baik. Ia mendapatkan bantuan beasiswa UKT selama empat semester dari dosennya, Bapak Syaiful Bakhri, M.MSI., dukungan moral dari Ibu Baqiyatush Sholihah, M.Si., serta bimbingan dari sosok orang tua kedua di Semarang, Pak Wasis dan Bu Karni.

Meski sibuk bekerja, Yuda tetap menorehkan prestasi membanggakan. Ia mengantongi Sertifikasi Profesi BNSP bidang Social Media Marketing dari Kemenpora RI (2025), meraih Juara 3 Lomba Video Kreatif Nasional Perpustakaan UIN Walisongo (2024), pernah menjadi Duta Hukum dan HAM Jawa Barat, serta aktif sebagai volunteer di International Office UIN Walisongo selama dua tahun.

Keunggulan akademiknya dibuktikan lewat skripsi berjudul “Transformational Leadership and Quality Culture Formation at Miftahul Akhlaqiyah Islamic Elementary School Semarang”. Mengintegrasikan paradigma Unity of Sciences, Yuda menemukan bahwa budaya mutu di madrasah tumbuh subur dari keteladanan langsung kepala madrasah dalam praktik keagamaan sehari-hari.

Target Sederhana yang Berbuah Manis

Awalnya, Yuda tidak pernah memasang target menjadi wisudawan terbaik. Impian sederhananya hanyalah bisa membawa kedua orang tuanya menyaksikan langsung momen kelulusannya di kampus. Namun, ketekunan dan kedisiplinannya memanfaatkan setiap celah waktu kosong membawanya ke puncak apresiasi tertinggi FTIK.

Setelah ini, Yuda berencana mengumpulkan modal finansial terlebih dahulu melalui dunia kerja sebelum melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2). Ia pun menitipkan pesan membakar semangat bagi adik-adik tingkat di UIN Walisongo.

“Jangan mudah menyerah. Apa pun keadaannya, pasti ada jalannya. Ketika kita berusaha, Allah pasti akan memberikan jalan dari arah yang tidak disangka-sangka. Tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin disertai doa yang kuat,” pungkasnya.