Dilepas dengan Pesan Besar: Terus Belajar, Berani Melangkah, dan Hadir Memberi Manfaat

UIN Walisongo Online, Semarang – Sebanyak 488 lulusan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) resmi menyelesaikan perjalanan akademiknya pada Wisuda Periode Agustus 2026 pada Jumat (21/08/2026) di hotel Setos Semarang. Capaian penting dicatat dalam laporan akademik fakultas: lebih dari 91 persen lulusan program sarjana mampu menyelesaikan studi maksimal lima tahun, menunjukkan keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan proses pendidikan sesuai target waktu.

Laporan akademik tersebut disampaikan oleh Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag. selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan FTIK sebagai bagian dari evaluasi capaian pendidikan pada periode wisuda ini.

Dalam laporannya, Dr. Ahmad Muthohar menegaskan bahwa keberhasilan lulusan tidak hanya dilihat dari jumlah mahasiswa yang menyelesaikan studi, tetapi juga dari kualitas proses akademik yang membentuk kompetensi, karakter, dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah kampus.

“Wisuda ini menjadi bukti komitmen FTIK dalam menghadirkan lulusan yang berkualitas. Capaian akademik yang diraih harus menjadi bekal bagi alumni untuk terus belajar, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.”
Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag.,
Wisuda Bukan Akhir Pendidikan, tetapi Awal Perjalanan Belajar Baru

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan sekaligus mengingatkan bahwa gelar akademik bukanlah akhir dari proses pendidikan.

“Selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati yang telah menyelesaikan perjalanan akademiknya. Hari ini bukan akhir dari proses belajar, tetapi awal dari perjalanan baru untuk mengembangkan ilmu dan pengalaman di tengah masyarakat,” ujar Prof. Abdul Rohman.

Menurutnya, dunia pembelajaran tidak terbatas pada ruang kelas. Pengalaman sosial, organisasi, dunia kerja, dan berbagai tantangan kehidupan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan seseorang.

“Kuliah itu tidak melulu dalam kelas, tetapi ada hal-hal luar biasa yang bisa diperoleh di luar kelas. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki kehidupan setelah lulus,” ungkapnya.
Pesan tersebut sejalan dengan teori Experiential Learning yang dikembangkan oleh David A. Kolb, yang menjelaskan bahwa pengalaman nyata menjadi sumber penting dalam proses pembelajaran. Melalui pengalaman, seseorang melakukan refleksi, membangun pemahaman, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.

Karena itu, Prof. Abdul Rohman mengajak para alumni untuk tidak berhenti belajar setelah memperoleh ijazah.

“Walaupun sudah lulus, teruslah belajar dan teruslah mencari pengalaman yang dapat menunjang karier dan kehidupan saudara. Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan gelar akademik,” pesannya.
Gagasan tersebut berkaitan dengan konsep lifelong education atau pendidikan sepanjang hayat yang dikembangkan oleh para pemikir pendidikan seperti John Dewey. Konsep ini menempatkan pendidikan sebagai proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, bukan hanya selama seseorang berada di institusi pendidikan formal.

Prestasi Akademik Menjadi Modal, Kontribusi Menjadi Ukuran Keberhasilan

Selain keberhasilan menyelesaikan studi, FTIK juga mencatat capaian akademik yang positif. Pada periode ini, rata-rata IPK lulusan S1 mencapai 3,76, sedangkan lulusan S2 mencapai 3,77.

Beberapa lulusan berhasil memperoleh predikat wisudawan terbaik. Yuda Agustian dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas jenjang S1 dengan IPK 3,94, sedangkan Muhammad Bari’us Salam dari Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Arab (PBA) menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas jenjang S2 dengan IPK 3,92.

Namun, Prof. Abdul Rohman menekankan bahwa keberhasilan seorang sarjana tidak hanya ditentukan oleh angka akademik.

“Sarjana harus mampu menjawab tantangan dan problematika masyarakat. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus menjadi kekuatan untuk memberikan solusi dan manfaat bagi kehidupan bersama,” tegasnya.
Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara keilmuan, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan beradaptasi.

Alumni FTIK Didorong Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

Pesan serupa disampaikan oleh Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., dalam sekapur sirih sebagai Ketua Ikatan Alumni FTIK. Ia mengingatkan bahwa perjalanan kehidupan setelah wisuda akan selalu menghadirkan dinamika.

“Kebahagiaan itu ada mulanya, ada prosesnya, ada puncaknya. Itulah dinamika kehidupan. Jika bahagia tetaplah ingat bahwa ke depan akan tetap ada tantangan yang ada,” ujarnya.
Menurut Prof. Fatah Syukur, alumni harus mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Jadilah alumni yang bermanfaat untuk semua orang. Jika tidak bisa, maka sebagian. Jika tidak bisa, maka bermanfaatlah untuk lingkungan kecil. Jangan sampai menjadi beban,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberanian mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup.

“Jangan takut gagal. Memilih atau tidak memilih itu ada risiko. Bahkan tidak memilih juga memiliki risiko,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dunia setelah kampus membutuhkan keberanian, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi berbagai perubahan.

Wisuda FTIK Periode Agustus 2026 akhirnya bukan hanya menjadi seremoni pelepasan lulusan, tetapi menjadi momentum refleksi bahwa pendidikan tinggi memiliki tujuan yang lebih besar: membentuk manusia yang terus belajar, berani menghadapi tantangan, dan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan nilai yang diperoleh selama berada di kampus, 488 lulusan FTIK kini memasuki ruang belajar yang lebih luas yakni kehidupan nyata, tempat ilmu diuji melalui kontribusi dan pengabdian.