Ubah Sampah Dapur Jadi Berkah, Tim KKN MIT 22 Posko 50 UIN Walisongo Latih Warga Sirap Bikin Pupuk Organik Cair

UIN Walisongo Online, Semarang – Divisi Kesehatan dan Lingkungan (Kesling) Posko 50 KKN MIT ke 22 UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan workshop pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) pada Jum’at (21/08/2026), bertempat di Doesoen Kopi Sirap. Kegiatan ini diikuti oleh 20 warga yang merupakan ibu-ibu  dan difokuskan pada praktik pembuatan POC. Kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat guna mendukung pengelolaan sampah organik rumah tangga serta meningkatkan produktivitas sektor pertanian lokal secara ramah lingkungan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Fat Maulana selaku Koordinator Desa (Kordes) Posko 50 KKN, yang menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan rasa terima kasih kepada perangkat desa serta warga Dusun Sirap yang telah menerima dan mendukung program KKN ini dengan penuh kehangatan. Fat menekankan bahwa program pembuatan POC ini dirancang sebagai solusi praktis atas permasalahan sampah dapur dan sisa sayuran yang sering kali terbuang sia-sia. Melalui pelatihan ini, diharapkan masyarakat mampu mengolah limbah organik secara mandiri sehingga tidak hanya menekan penggunaan pupuk kimia yang mahal dan berpotensi merusak struktur tanah, tetapi juga menciptakan kemandirian pertanian desa yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

“Pelatihan pemanfaatan limbah dapur menjadi POC ini sangat relevan dan memberikan manfaat nyata bagi warga Dusun Sirap yang mayoritas bergerak di bidang pertanian dan perkebunan. Saya mengimbau seluruh warga yang hadir untuk menyimak dengan seksama, mengaplikasikan ilmu takaran serta fermentasi POC ini di rumah masing-masing, serta terus menjaga kelestarian lingkungan demi kemajuan dan kesuburan pertanian di Dusun Sirap dalam jangka panjang” Ujar Ahmad Rofii selaku Kepala Dusun Sirap dalam sambutannya.

Dalam pemaparan materi inti, dijelaskan secara komprehensif oleh Ulumul Akhwal sebagai salah satu anggota Kesling bahwa POC merupakan pupuk cair alami berbahan dasar limbah dapur, sisa sayuran, dan buah-buahan yang difermentasi. Pembuatan POC ini memiliki lima manfaat utama, yaitu menyuburkan tanah secara alami, meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis, menciptakan iklim ramah lingkungan, serta mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk berdaya guna tinggi.

Proses pembuatan POC memerlukan alat dan bahan sederhana berupa 2 buah galon plastik, starter EM4 tanaman, air bersih, molase sebagai sumber nutrisi mikroba, limbah dapur/sayur/buah, kran air, serta alat pemotong seperti pisau/cutter atau alat pemanas. Untuk menghasilkan mutu fermentasi yang optimal, takaran standar yang digunakan adalah 10 liter (6–8 kg) limbah sayuran, 100 ml (3 tutup botol) molase, 30 ml (1 tutup botol) EM4 tanaman, serta 1 liter air bersih tambahan, dengan perbandingan rasio baku 10 : 0.1 : 0.03. Peserta diingatkan untuk menyisakan ruang kosong sebesar ± 20% pada bagian atas galon wadah fermentasi sebagai ruang pelepasan gas agar cairan tidak meluap.

Tahapan teknis pembuatan POC dilakukan melalui beberapa langkah praktis, diawali dengan melubangi tutup galon atas sebagai saringan dan melubangi leher galon bawah agar galon atas dapat masuk sebagian. Selanjutnya, kran dipasang pada bagian bawah galon dasar untuk mengalirkan hasil pupuk cair, lalu kedua galon disusun dengan menaburkan sedikit tanah sebelum bahan organik dimasukkan. Campuran larutan aktivator (3 tutup botol molase, 1 tutup botol EM4, dan 1 liter air) dituangkan secara bertahap setiap hari selama 7 hari ke dalam galon yang diletakkan di tempat teduh, kemudian didiamkan selama 2 hari hingga pupuk cair siap dipanen melalui kran.

Untuk menjamin kualitas hasil fermentasi, narasumber membagikan tips penting seperti penggunaan bahan organik yang masih segar, pengadukan rutin setiap 2–3 hari sekali, penambahan air jika terlalu kental, serta larangan keras menggunakan bahan beracun seperti sisa sabun, minyak goreng bekas, atau limbah kimia. Pada pengaplikasian di lapangan, pupuk cair harus diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih menggunakan perbandingan 1:5 (100 ml POC : 500 ml air) dan disiramkan ke tanaman 1–2 kali seminggu pada pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan cepat.

Diharapkan hasil dari kegiatan ini mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi peningkatan kesuburan tanah dan kesejahteraan warga khususnya ibu-ibu yang berada di Dusun Sirap Desa Kelurahan Kabupaten Semarang dalam memanfaatkan sisa sayuran yang biasanya dibuang menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu berupa pupuk untuk tanaman.