FKUB dan UIN Walisongo Perkuat Kerukunan Beragama Berbasis Kolaborasi

UIN Walisongo Online, Semarang – Kerukunan umat beragama tidak cukup dibangun melalui dialog, tetapi perlu diwujudkan dalam aksi nyata yang melibatkan masyarakat. Semangat inilah yang mengemuka dalam Rapat Koordinasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Kerukunan Umat Beragama di Perguruan Tinggi yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang, Selasa (3/11/2026), di Ruang Teater Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Walisongo.

Kegiatan ini mempertemukan unsur FKUB, pemerintah, tokoh agama, dan akademisi untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun kerukunan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ketua FKUB Jawa Tengah, Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam merawat keberagaman. Kampus tidak hanya menjadi ruang kajian tentang toleransi, tetapi juga tempat menumbuhkan sikap saling menghormati dan kerja sama lintas iman.

“Perguruan tinggi punya peran strategis dalam merawat kerukunan. Kampus bukan hanya tempat mengkaji keberagaman, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan sikap saling menghormati dan bekerja sama lintas iman,” ujarnya.

Dalam sesi FGD yang dipandu Dr. Andi Purwono, M.A., Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah, Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag., mengajak perguruan tinggi mengembangkan kerukunan dari sekadar toleransi pasif menuju solidaritas aktif. Menurutnya, dialog antaragama perlu ditindaklanjuti dengan kolaborasi sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kerukunan bukan sekadar hidup berdampingan tanpa konflik. Tujuan akhirnya bukanlah living separately in peace, melainkan living together in solidarity,” ungkapnya.

Ia menawarkan sejumlah program kolaborasi lintas iman, antara lain Kampung Kolaborasi Kerukunan, gerakan ekoteologi, kepemimpinan pemuda, solidaritas kebencanaan, dan penguatan UMKM lintas agama. Perguruan tinggi, menurutnya, dapat berperan sebagai mediator sekaligus penggerak transformasi sosial.

Sejalan dengan itu, Ketua LP2M UIN Walisongo, Prof. Dr. Abdul Ghofur, M.Ag., memaparkan praktik pengabdian kepada masyarakat berbasis moderasi beragama. Ia menegaskan bahwa moderasi bukan berarti mengurangi keyakinan beragama, melainkan menjalankan ajaran agama secara proporsional dengan tetap menghormati hak orang lain.

“Kerukunan tumbuh bukan karena perbedaan dihapus, tetapi karena perbedaan dikelola dengan adil dan bermartabat,” tuturnya.

Abdul Ghofur juga memperkenalkan sejumlah praktik baik UIN Walisongo, di antaranya KKN Kolaboratif Moderasi Beragama bersama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dan Institut Agama Kristen Negeri Toraja. Program tersebut mempertemukan mahasiswa lintas agama untuk tinggal dan berkegiatan bersama di tengah masyarakat.

“Toleransi dialami, bukan diceramahkan,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Hindriyanto Dwi Purnomo, Ph.D., dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, berbagi pengalaman pemberdayaan masyarakat multireligius melalui pengembangan Desa Wisata Kreatif Perdamaian di Dusun Srumbung Gunung, Kabupaten Semarang.

Program yang dirintis sejak 2020 tersebut memadukan potensi wisata, budaya, dan nilai toleransi. Inisiatif ini berhasil mengantarkan dusun tersebut masuk 300 besar Desa Wisata Nasional pada 2022 dan 2023, serta meraih Juara 1 Anugerah Desa Wisata Kabupaten Semarang 2025 kategori desa wisata berkembang.

Menurut Hindriyanto, keberagaman perlu dikelola sebagai modal sosial untuk membangun kolaborasi dan kesejahteraan bersama. Pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu jalan untuk menerjemahkan nilai tersebut ke dalam tindakan nyata.

Narasumber berikutnya, Ketua MUI Jawa Tengah, Prof. Dr. K.H. Noor Ahmad, M.A., menekankan pentingnya membangun kampus yang inklusif, moderat, dan berkeadaban. Sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, perguruan tinggi harus menjadi ruang aman bagi seluruh sivitas akademika untuk berekspresi, berdialog, dan mengembangkan keilmuan.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang harus disikapi dengan saling menghormati. Kampus perlu membangun tradisi akademik yang terbuka terhadap perbedaan pandangan serta menjadikannya sebagai kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi FKUB Jawa Tengah yang menghadirkan Pdt. Yosua Wardaya, S.Th., Hj. Zuhar Mahsun, M.Si., dan Drs. Dewa Made Artayasa, M.Pd. Acara kemudian ditutup dengan kunjungan peserta ke Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang.

Melalui forum ini, FKUB Jawa Tengah dan UIN Walisongo berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat semakin kuat. Kerukunan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.