Guest Speaker BI, Rektor UIN Walisongo Tekankan Keseimbangan Syariah

UIN Walisongo Online, Semarang — Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., hadir sebagai guest speaker dalam forum diskusi strategis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) pada Senin (15/6/2026). Forum yang berlangsung di Hotel Rooms Inc Semarang ini mengangkat tema “Penguatan Ekosistem Ekonomi Syariah: Potensi Ekonomi Syariah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah”.

Kehadiran Prof. Musahadi dalam acara yang diinisiasi oleh Bank Indonesia tersebut mengukuhkan perannya sebagai akademisi yang vokal dalam mengawal arah baru pengembangan ekonomi syariah, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari kalangan dosen, praktisi, dan pelaku usaha, ia membedah konsep ekonomi syariah secara mendalam dari aspek filosofis hingga tataran implementasi praktis.

Dalam paparannya, Prof. Musahadi menegaskan bahwa pemahaman mengenai syariah tidak boleh berhenti atau terjebak pada aspek hukum formal semata. Menurutnya, pemahaman ekonomi syariah harus dilakukan secara komprehensif agar mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
“Syariah itu memiliki tiga tingkatan yang saling mengikat, yaitu mabda’ (filosofi), manhaj (metodologi), dan aqwal (praktik atau implementasi). Ketiga tingkatan ini harus dipahami secara utuh dan tidak boleh dipisahkan,” ujar Prof. Musahadi.

Ia juga menambahkan bahwa fleksibilitas dalam melihat kemaslahatan menuntut adanya cara pandang yang luas. Oleh karena itu, ia menawarkan sebuah pendekatan integratif untuk menjawab tantangan ekonomi kontemporer.
“Maslahat dan madharat memungkinkan hadirnya perspektif yang plural. Karena itu, dibutuhkan keseimbangan antara pendekatan fikih dan tasawuf agar praktik ekonomi syariah tetap relevan, adaptif, dan berkeadilan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof. Musahadi juga memanfaatkan momentum ini untuk mengajak para akademisi dan dosen yang hadir agar tidak sekadar terjebak pada riset-riset yang bersifat normatif. Ia mendorong perluasan kajian ekonomi syariah hingga menyentuh paradigma kritis yang mampu menghasilkan solusi konkret atas persoalan sosial-ekonomi nyata di masyarakat.
“Penelitian ekonomi syariah tidak cukup hanya menjelaskan fenomena, tetapi harus mampu memberikan kontribusi perubahan ke arah yang lebih baik. Di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini, dosen dan mahasiswa diharapkan tidak hanya berhenti pada resiliensi diri, tetapi juga membangun resiliensi yang berdampak nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

Selain menghadirkan Rektor UIN Walisongo sebagai salah satu pembicara utama, forum diskusi yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia ini juga menghadirkan beberapa pakar lain dari berbagai perguruan tinggi, seperti Guru Besar Universitas Diponegoro Prof. Akhmad Syakir Kurnia, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Syafiq Mahmadah Hanafi, serta auditor halal drh. Siti Susanti, Ph.D., guna memberikan pandangan multi-perspektif dalam memperkuat literasi ekonomi syariah nasional.