UIN Walisongo Online, Semarang – Planetarium dan Observatorium K.H. Zubair Umar Al-Jailani UIN Walisongo Semarang menggelar kegiatan rukyatul hilal penentuan awal Bulan Muharram 1448 H pada Senin (15/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan tradisi keilmuan falak sekaligus layanan akademik kepada masyarakat dalam bidang astronomi Islam.
Berdasarkan data hisab yang dihitung oleh tim Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, saat Matahari terbenam di Semarang posisi hilal berada pada ketinggian 1° 51′ 30,94″, dengan elongasi geosentris 6° 23′ 53,47″ dan elongasi toposentris 5° 51′ 58,21″. Hilal diperkirakan bertahan di atas ufuk selama 12 menit 55 detik setelah Matahari terbenam.
Selain itu, umur hilal saat rukyat mencapai 7 jam 36 menit 27 detik sejak terjadinya ijtimak pada pukul 09.54 WIB, dengan iluminasi sebesar 0,26 persen. Matahari terbenam di Semarang pada pukul 17.30 WIB, sedangkan hilal diperkirakan terbenam pada pukul 17.43 WIB.
Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Muh. Arif Royyani, Lc. M.S.I., menjelaskan bahwa kegiatan rukyat hilal tidak hanya bertujuan mendukung penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan penguatan literasi astronomi Islam di tengah masyarakat.
“Rukyat hilal merupakan agenda ilmiah dan keagamaan yang rutin kami laksanakan. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat memahami bahwa penentuan awal bulan Hijriah dilakukan secara ilmiah melalui perhitungan hisab dan observasi lapangan. Ini sekaligus menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan ilmu falak, astronomi, dan syariat Islam,” ujarnya.

Menurutnya, data hisab menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia, meskipun tingkat keterlihatan hilal tetap dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan cuaca di masing-masing lokasi pengamatan.
“Hisab memberikan gambaran posisi hilal secara astronomis, sedangkan rukyat menjadi sarana verifikasi lapangan. Karena itu, keduanya merupakan bagian yang saling melengkapi dalam tradisi penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, pakar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, Drs. K.H. Slamet Hambali, M.S.I., menjelaskan bahwa berdasarkan data hisab, posisi hilal awal Muharram 1448 H di Indonesia telah berada di atas ufuk dengan ketinggian yang bervariasi di setiap wilayah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang keterlihatan hilal, terutama di wilayah Indonesia bagian barat. “Rukyat hilal menjadi sarana penting untuk mengonfirmasi hasil hisab sekaligus menjaga tradisi keilmuan Islam yang menggabungkan ketepatan perhitungan astronomi dengan observasi lapangan,” jelasnya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Hj. Ummul Baroroh, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas konsistensi Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo dalam menyelenggarakan kegiatan rukyat hilal sebagai bentuk integrasi antara sains dan nilai-nilai keislaman.
“Kami mengapresiasi kegiatan rukyat hilal awal Muharram yang diselenggarakan oleh Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi yang mengintegrasikan ilmu falak, astronomi, dan syariat Islam, sekaligus memperkuat budaya akademik dan literasi sains keislaman di lingkungan kampus maupun masyarakat. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.

Berdasarkan peta ketinggian hilal nasional yang disusun Planetarium UIN Walisongo, wilayah Indonesia bagian barat memiliki peluang observasi yang lebih baik karena ketinggian hilal relatif lebih tinggi dibanding wilayah timur Indonesia. Peta elongasi juga menunjukkan nilai elongasi hilal di Indonesia berada pada kisaran 6 hingga 8 derajat lebih, yang secara astronomis memberikan peluang pengamatan yang cukup baik.
Kegiatan rukyatul hilal ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, praktisi falak, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap astronomi Islam. Selain observasi hilal, peserta juga memperoleh penjelasan mengenai data hisab, posisi Bulan, dan dinamika penentuan kalender Hijriah.
Melalui kegiatan ini, UIN Walisongo Semarang terus meneguhkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu falak di Indonesia yang mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan astronomi modern untuk kemaslahatan umat. Hasil pengamatan hilal selanjutnya akan menjadi bagian dari laporan yang disampaikan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan awal Bulan Muharram 1448 Hijriah.


