Menghadapi Era Digital, Humas UIN Walisongo Dituntut Kuasai Narasi dan Kecepatan Informasi

UIN Walisongo Online, Solo — Peran Hubungan Masyarakat (Humas) kini tak lagi sekadar menjadi corong informasi lembaga, melainkan ujung tombak yang menentukan citra dan pengaruh sebuah institusi di tengah masyarakat. Di era transformasi digital, peningkatan keterampilan, strategi komunikasi, serta kecepatan merespons momentum menjadi kunci utama menjaga kelangsungan citra positif kampus.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama (AAKK) UIN Walisongo Semarang, Dr. M. Fatah, dalam acara “Bimbingan Teknis Teknik Monitoring Media Sosial dan Media Massa untuk Penyusunan Narasi Strategis bagi Humas” yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

“Dalam era di mana arus informasi bergerak sangat cepat, Humas dituntut untuk terus bertransformasi dan beradaptasi dengan perubahan lanskap media,” ujar Fatah di hadapan para pelaksana Humas UIN Walisongo.

Strategi dan Transformasi Media

Salah satu sorotan utama dalam agenda bimbingan teknis tersebut adalah pentingnya mengasah keterampilan komunikasi dasar sekaligus menguasai teknik pengolahan data mentah. Data yang akurat dan terukur dinilai sebagai fondasi utama untuk membangun sebuah narasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, transformasi dari media massa tradisional ke platform media sosial menuntut adanya penyesuaian pendekatan. Praktisi Humas didorong untuk terus meningkatkan pemahaman mengenai etika dan teknik bermedia sosial guna menyusun narasi strategis yang tidak hanya berpotensi viral, tetapi juga berdampak positif bagi institusi.

Cepat, Tepat, dan Menghibur

Di samping kualitas narasi, kecepatan dan ketepatan distribusi informasi juga menjadi faktor yang sangat krusial. Informasi dari institusi harus disampaikan secara cepat dan tepat waktu agar tidak berisiko menjadi usang (out of date).

Humas dituntut untuk peka terhadap situasi serta cerdik memanfaatkan momentum atas isu-isu hangat (hot) dan tren masa kini (in). Meski demikian, konten yang disajikan tidak boleh terkesan kaku. Pesan institusi harus dibungkus melalui narasi yang menghibur sekaligus mendidik (edutainment) agar lebih mudah diterima oleh publik, khususnya generasi muda.

Kawal Target 5.000 Mahasiswa

Pada akhirnya, seluruh strategi komunikasi dan kecepatan informasi tersebut bermuara pada satu tujuan utama: memperkuat citra dan pengaruh institusi. Fatah mengingatkan bahwa Humas memegang kendali penuh atas bagaimana sebuah lembaga dipersepsikan oleh publik luar.

Oleh karena itu, pembuatan konten yang memikat (catchy) dan attractive) menjadi sebuah keharusan untuk mencuri perhatian di tengah banjir informasi. Terlebih lagi, peran aktif Humas saat ini sangat diandalkan untuk mendukung berbagai kegiatan strategis, termasuk penerimaan mahasiswa baru. Narasi yang dibangun diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk mencapai target menjaring 5.000 mahasiswa baru pada tahun ini.

Tantangan Reputasi Digital dan Visual

Dalam kesempatan yang sama, Jurnalis Solopos, Danang Nur Ihsan, yang turut hadir sebagai narasumber, menyoroti strategi komunikasi digital dalam merespons perubahan perilaku masyarakat. Menurutnya, masyarakat kini telah berubah dari audiens pasif menjadi pencari informasi yang sangat aktif.

“Platform digital kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup seiring akses internet yang meluas. Kita bisa melihat bagaimana kekuatan platform seperti TikTok bahkan mampu memengaruhi opini publik,” ungkap Danang.

Danang menekankan pentingnya optimalisasi platform digital untuk menjaga reputasi institusi. Website resmi kampus harus dikelola dengan baik layaknya ‘rumah’ digital. Pengelolaan rekam jejak digital yang positif akan secara langsung memengaruhi penilaian calon mahasiswa, orang tua, dan mitra lembaga.

Di sisi lain, ia juga mengkritik gaya konten media sosial kampus yang sering kali masih terjebak pada sifat dokumentatif dan pejabat-sentris.

“Dibutuhkan narasi strategis yang konsisten untuk membentuk persepsi publik. Tantangan utamanya adalah bagaimana menerjemahkan visi besar kampus ke dalam bahasa awam yang mudah dipahami oleh masyarakat luas,” jelasnya.

Terakhir, Danang mengingatkan pentingnya pengelolaan merek (brand) dan konsistensi visual. Menurutnya, Humas harus disiplin dalam menggunakan identitas merek (brand identity), seperti konsistensi penggunaan palet warna dan jenis huruf (font) sesuai panduan (brand guideline). Hal ini penting untuk menciptakan keseragaman visual di seluruh platform, baik di tingkat universitas maupun fakultas.