Sinergi Lintas Sektor Astronomi Nasional: Imah Noong, Bosscha, OIF UMSU, dan UIN Walisongo Bahas Kolaborasi Planetarium

UIN Walisongo Online, Medan – Perkembangan kajian antariksa dan peradaban ilmu falak di Indonesia semakin menunjukkan arah yang integratif melalui kolaborasi multipihak. Guna memperkuat tata kelola fasilitas, inovasi instrumen, serta perluasan edukasi sains masyarakat, sebuah pertemuan strategis berskala nasional digelar dengan mempertemukan empat institusi astronomi terkemuka di tanah air: Imah Noong, Observatorium Bosscha ITB, Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU), dan Planetarium & Observatorium UIN Walisongo Semarang pada Minggu (26/07/2026).

Pertemuan bertajuk “Akselerasi Pengelolaan Planetarium dan Observatorium Nasional” ini bertujuan menyelaraskan kekuatan masing-masing lembaga. Kolaborasi ini dirancang untuk menjawab tantangan global di bidang riset astrofisika, standarisasi kalender, serta metode edukasi publik berbasis digital dan budaya lokal.

Menyatukan Karakteristik Empat Pilar Astronomi. Kemitraan strategis ini menjadi momentum bersejarah karena mempertemukan karakteristik unik dan keunggulan dari setiap pengelola fasilitas antariksa Indonesia, yaitu:

Imah Noong (Lembang): Pusat edukasi astronomi berbasis masyarakat dan budaya, yang sukses membumikan sains antariksa lewat pendekatan kreatif dan kearifan lokal.

Observatorium Bosscha (ITB): Lembaga observasi astronomi modern tertua di Indonesia yang menjadi kiblat riset astrofisika dan peletak dasar sains antariksa nasional.

OIF UMSU (Medan): Pusat riset universitas yang unggul dalam pengembangan inovasi instrumen falak kontemporer, pengamatan hilal, serta aktif dalam pengabdian masyarakat.

Planetarium & Observatorium UIN Walisongo (Semarang): Pusat studi falak integratif yang memiliki salah satu fasilitas planetarium universitas terbesar dan tercanggih di Indonesia.

Fokus Bahasan: Inovasi Instrumen hingga Kampanye Pengamatan Bersama

Pertemuan ini membahas serangkaian agenda krusial, mulai dari optimalisasi pemanfaatan kubah (dome) observatorium, metode digitalisasi pertunjukan planetarium, hingga perakitan dan standarisasi instrumen pengamatan langit.

Selain aspek teknis laboratorium, para delegasi sepakat untuk memperkuat jaringan pemantauan objek langit lintas wilayah Indonesia. Penguatan jaringan ini mencakup riset bersama terkait pengamatan hilal siang hari, astrofotografi, serta kelanjutan kampanye pengamatan fenomena okultasi bintang oleh asteroid yang memerlukan akurasi data kolektif dari berbagai titik geografis di tanah air.

Mendorong Transisi Literasi Sains dan Kemaslahatan Umat Melalui perpaduan antara keahlian akademis dari kampus, basis riset fundamental dari Bosscha, dan pendekatan kultural dari Imah Noong, sinergi ini diharapkan dapat melahirkan ekosistem literasi astronomi yang inklusif.

Selain berkontribusi pada penyediaan data astronomis untuk kepentingan ibadah umat Islam—seperti penyatuan kalender Islam—jejaring ini juga diproyeksikan mampu mendongkrak potensi pariwisata edukasi sains (science tourism) di Indonesia.

Melalui kemitraan segi empat (quadripartite) ini, keempat lembaga berkomitmen untuk membuka akses riset bersama yang lebih luas bagi peneliti, mahasiswa, serta pegiat astronomi amatir demi kemajuan sains dan peradaban bangsa.