Prodil Ilmu Hadis (ILHA) Fakultas Ushuludin dan Humaniora (FUHUM) mengadakan kegiatan FGD Evaluasi Kurikulum Ilmu Hadis pada hari Senin (27/7) bertempat di ruang sidang Dekanat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang.
Kegiatan Forum Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan untuk tujuan persiapan menuju akreditasi Prodi Ilmu Hadis yang hampir satu tahun sejak didirikannya pada tahun 2025.
Narasumber Kegiatan FGD Evaluasi Kurikulm Ilmu Hadis didatangkan dari dosen dan pakar kurikulum ilmu hadis dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus ketua Asosiasi Ilmu Hadis, Prof. Dr. Saifudin Zuhri Qudsy. Kegiatan diikuti oleh 12 peserta aktif, terdiri dari beberapa unsur, yaitu para guru besar ilmu hadis, para dosen ilmu hadis, serta pimpinan Fakultas Ushuludin dan Humaniora.
Dalam penyampaian materi, Prof Zuhri mengatakan, “Prodi ILHA FUHUM ini belum satu tahun berdiri tapi sudah melaksanakan Evaluasi Kurikulum, sangat luar biasa”. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan Evaluasi Kurikulum dinilai sangat positif untuk persiapan menuju akrditasi Prodi.
Secara umum, Expert memberikan review dokumen kurikulum OBE ILHA FUHUM dengan nilai baik. Akan tetapi dari aspek pencirian Prodi belum memberikan distingsi yang kuat. Oleh karena itu, dia menekankan untuk memperioritaskan pembahasan pencirian prodi ILHA dalam kegiatan FGD.
Dalam menentukan pencirian Prodi ILHA, menurut ketua Asosiasi ILHA, harus betul-betul memperhatikan distingsi antar Prodi Ilmu Hadis. Sesuai data dari asosiasi Ilmu Hadis, dia menyampaikan ada lebih dari 50 Prodi Ilmu Hadis. Untuk menentukan pencirian Prodi ILHA FUHUM, tegasnya, harus mengkaji dan studi banding dengan prodi-prodi ILHA lainnya agar betul betul bisa menetapkan distingsi Prodi ini.

Di samping itu, kebutuhan yang paling mendasar dalam pencirian tersebut, menurut dosen UIN Sunan Kalijaga, juga harus mempertimbangan kesesuaian kebutuhan dan isu-isu aktual di masyarakat industri. Dalam hal ini, Prof Zuhri menawarkan Pencirian Prodi dengan penciri Syarah Digital dan Lokal Wisdom. Dia memberikan alasan, bahwa kompetisi akdemik di dunia media dan digital, Prodi ILHA masih harus lebih kompetitif lagi. Prodi-prodi yang masih serumpun dalam kajian Studi Islam, seperti Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, menurutnya, sudah lebih maju dan sangat mendominasi di dunia digital, baik itu berupa web-web, aplikasi serta konten-konten kreatif dalam bentuk kajian-kajian syarah digital atas ayat-ayat al-Qur’an, seperti tafsir.com, maktabah syamilah dan lain sebagainya. Sementara di Prodi ILHA, dalam pengamatannya, masih relatif sedikit.
Selain itu, dalam kontek ke Indonesiaan, dalam analisa pakar kurikulum ilmu hadis dan ketua Asosiasi Ilmu Hadis, kebutuhan masyarakat terhadap syarah-syarah hadis lokal keIndonesiaan dalam bentuk digital sangat besar. Akan tetapi, di kalangan praktisi terlebih masyarakat umum, masih sangat sedikit dalam menekuni kajian syarah-syarah hadis, seperti bagaimana mensyarahi hadis Shohih Bukhori dalam konteks Indonesia yang bisa diakses di media-media digital. Oleh karena, menurut Prof Zuhri, penguatan matakuliah-matakuliah di Prodi ILHA, seperti metodologi Syarah dalam konteks ke Indonesiaan menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Diskusi interaktif antara narasumber dan peserta FGD berlangsung dengan sangat dinamis. Ada banyak pertanyaan, masukan dan tawaran solusi untuk evaluasi dan pengembangan kurikulum ILHA FUHUM. Masukan tersebut didasarkan pada pertimbangan logika SKS, CPL, struktur matakuliah, kesesuaian profil lulusan dengan kebutuhan masyarakat industri dan lain-lain. FGD Evaluasi Kurikulum ILHA berlangung di ruang Sidang FUHUM dari jam 08.00 Wib sampai jam 12.00 Wib, dengan menghasilkan banyak masukan dan rekomendasi untuk kemudian dilanjutkan dalam tahap penyempurnaan berikutnya di forum diskusi TIM Kurikulum Prodi ILHA.


