UIN Walisongo Online, YOGYAKARTA – Menghadapi ancaman erupsi Gunung Merapi, tiga mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menghadirkan gagasan arsitektur adaptif melalui desain bertajuk Tri-Nata Living with Merapi. Karya tersebut berhasil meraih Juara II cabang Arsitektur Islam dalam ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2026 yang diselenggarakan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 4–6 November 2026.Desain ini dikembangkan oleh M. Arun Fuadiah, Muhammad Faiz Wibisono, dan Aldi Dwi Saputra dengan bimbingan Muhammad Najieb Sholih, M.Ars. Tri-Nata menawarkan konsep bangunan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang aktivitas dan edukasi masyarakat dalam kondisi normal, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat evakuasi ketika terjadi erupsi Gunung Merapi.Konsep Living with Merapi menjadi landasan utama desain tersebut. Alih-alih memandang alam sebagai ancaman yang harus dihindari, Tri-Nata mengajak masyarakat untuk hidup berdampingan dengan alam melalui perencanaan ruang yang adaptif terhadap potensi bencana. Bangunan dirancang agar memiliki fungsi ganda, yakni mendukung aktivitas edukasi dan sosial masyarakat sehari-hari sekaligus menyediakan ruang perlindungan ketika kondisi darurat.Nama Tri-Nata sendiri mengandung filosofi tiga hubungan manusia dalam perspektif Islam, yaitu hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), hablum minannas (hubungan antarmanusia), dan hablum minal alam (hubungan manusia dengan alam). Ketiga prinsip tersebut menjadi dasar pemikiran dalam merancang arsitektur yang tidak hanya memperhatikan aspek fisik bangunan, tetapi juga nilai spiritual, sosial, dan ekologis.”Kami ingin menghadirkan arsitektur yang tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi juga memiliki fungsi dan nilai bagi kehidupan masyarakat. Tri-Nata dirancang sebagai ruang edukasi ketika kondisi normal dan dapat beralih menjadi tempat evakuasi saat terjadi erupsi Merapi. Filosofi tiga hubungan dalam Islam menjadi landasan kami untuk membangun keselarasan antara manusia, Allah, sesama manusia, dan alam,” ungkap tim mahasiswa.Melalui desain tersebut, tim berharap arsitektur dapat mengambil peran lebih luas dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Keberadaan ruang edukasi diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai lingkungan dan mitigasi bencana, sedangkan fungsi evakuasi memberikan dukungan terhadap kebutuhan masyarakat ketika terjadi erupsi.Dosen pembimbing, Muhammad Najieb Sholih, M.Ars., mengapresiasi gagasan yang dikembangkan mahasiswa. Menurutnya, desain arsitektur Islam semestinya tidak hanya menampilkan identitas atau simbol keislaman, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam solusi nyata bagi persoalan kehidupan.”Tri-Nata menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan ke dalam konsep arsitektur yang kontekstual. Hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam tidak berhenti sebagai konsep filosofis, tetapi diwujudkan melalui desain yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat. Saya berharap gagasan ini dapat terus dikembangkan menjadi desain yang aplikatif dan memberikan manfaat nyata,” ujarnya.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UIN Walisongo Semarang, Dr. Umul Baroroh, M.Ag., turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Ia menilai prestasi ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kreativitas, keilmuan arsitektur, dan nilai-nilai keislaman untuk menjawab persoalan sosial dan lingkungan.”Kami sangat mengapresiasi prestasi mahasiswa UIN Walisongo melalui Tri-Nata Living with Merapi. Karya ini memperlihatkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan gagasan yang inovatif sekaligus memiliki kepedulian terhadap keselamatan manusia dan kelestarian alam. Inilah bentuk prestasi yang kami harapkan, yakni karya akademik yang tidak hanya membanggakan kampus, tetapi juga memberikan kontribusi bagi masyarakat,” tutur Umul Baroroh.Melalui Tri-Nata, mahasiswa UIN Walisongo menunjukkan bahwa arsitektur Islam dapat dikembangkan sebagai pendekatan yang mengintegrasikan nilai spiritualitas, kepedulian sosial, dan kesadaran ekologis. Gagasan tersebut sekaligus menawarkan perspektif bahwa hidup berdampingan dengan alam membutuhkan kesiapan, pengetahuan, dan desain ruang yang mampu merespons tantangan lingkungan.



