UIN Walisongo Online, Kebumen — Setelah 45 hari melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kolaborasi UIN Walisongo Semarang bersama sejumlah perguruan tinggi Islam negeri resmi ditarik dari lokasi pengabdian di Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen.
KKN kolaborasi tersebut melibatkan mahasiswa dari UIN Walisongo Semarang, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sebanyak enam mahasiswa UIN Walisongo ditempatkan di enam desa di Kecamatan Sempor, yakni Desa Kedungjati, Pekuncen, Selokerto, Bejiruyung, Semali, dan Kenteng.
Penarikan sekaligus pamitan secara resmi dilakukan oleh perwakilan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang, Abrori Shobarnas, di Posko KKN Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Selasa (25/8/2026).

Selama berada di lokasi, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja yang bersifat seremonial, tetapi berupaya menghadirkan program yang dapat dilanjutkan masyarakat setelah KKN berakhir.
Salah satu mahasiswa KKN Kelompok 92 di Desa Kedungjati, Irfan Riyanto, mengatakan kelompoknya menjalankan sejumlah program yang menyasar bidang kesehatan, pertanian, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Program kami di antaranya terkait stunting, penanaman bibit sayur-mayur yang dimulai dari biji, khususnya untuk mendukung kebutuhan ibu hamil dan ibu menyusui,” ujar Irfan.
Selain itu, mahasiswa juga mendampingi pelaku UMKM dalam penguatan branding dan fasilitasi sertifikasi halal. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sempor.
Pendampingan UMKM juga mencakup pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB), pemasangan GPS, pembuatan QRIS, logo usaha, hingga banner sebagai bagian dari penguatan identitas dan pemasaran produk.
Sementara itu, Laila, mahasiswa KKN Kelompok 93 di Desa Pekuncen, menyebut terdapat tiga program unggulan yang dikembangkan kelompoknya.
Salah satunya adalah inisiasi penguatan UMKM melalui pembuatan QRIS serta pendampingan terhadap sejumlah pelaku usaha. Mahasiswa juga melakukan sosialisasi dan kunjungan langsung ke sejumlah titik UMKM, termasuk usaha budidaya melon, kerajinan berbahan pandan, dan produksi roti.
“Kami mencoba melihat persoalan yang memang relevan dengan kondisi masyarakat. Jadi ketika program dijalankan, masyarakat, termasuk pemuda, bisa ikut terlibat,” kata Laila.
Program lainnya berupa pelatihan soft skill yang menyasar pemuda. Melalui forum group discussion (FGD), mahasiswa mengajak para pemuda berdiskusi mengenai persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka sekaligus mendorong kemampuan berpikir kritis dan keterlibatan dalam kegiatan di masyarakat.
Menurut Laila, pendekatan tersebut menjadi pengalaman baru bagi masyarakat sekaligus mahasiswa karena program dibangun berdasarkan kebutuhan dan persoalan yang ditemukan di lapangan.
Setelah seluruh rangkaian program selesai, penarikan mahasiswa menjadi penanda berakhirnya masa pengabdian selama 45 hari.
Abrori Shobarnas menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan tugas KKN sekaligus kepada masyarakat dan perangkat desa yang telah menerima serta mendukung pelaksanaan program.
“Penarikan ini bukan berarti hubungan antara mahasiswa dan masyarakat selesai. Kami berharap program-program yang sudah dijalankan dapat terus dilanjutkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Abrori.
Ia juga berharap pengalaman selama KKN dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka dalam merancang solusi yang tepat dan berkelanjutan.
Dengan berakhirnya masa KKN, mahasiswa UIN Walisongo bersama perguruan tinggi mitra pun kembali membawa pengalaman pengabdian dari Kecamatan Sempor sebagai bagian dari proses pembelajaran di tengah masyarakat.



