UIN Walisongo Semarang Perkenalkan Amorphophallus Indonesia dan Buka Kolaborasi di Malaysia

UIN Walisongo Online, Malaysia — 8 Agustus 2026. Kekayaan biodiversitas Indonesia kembali diperkenalkan di ranah akademik internasional. Kali ini, Tim UIN Walisongo Semarang membawa kekayaan genus Amorphophallus dalam kegiatan Guest Lecture di Faculty of Science, Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Kegiatan yang disampaikan oleh Dr. Baiq Farhatul Wahidah, M.Si., dari UIN Walisongo Semarang, mengangkat tema “Biodiversity of Amorphophallus in Indonesia: Diversity, Identification, Potential & Conservation.” Melalui tema tersebut, Amorphophallus diperkenalkan bukan hanya sebagai tumbuhan yang memiliki potensi ekonomi, tetapi sebagai bagian penting dari kekayaan biodiversitas Indonesia yang perlu dikenali, didokumentasikan, dan dilestarikan.

Amorphophallus merupakan salah satu genus dalam famili Araceae yang memiliki keragaman tinggi di kawasan tropis. Indonesia menjadi salah satu wilayah penting bagi keragaman genus ini, termasuk keberadaan sejumlah jenis endemik. Beberapa di antaranya telah dikenal luas oleh masyarakat, seperti porang (Amorphophallus muelleri), suweg, walur, dan iles-iles.

Dalam paparannya, Dr. Baiq mengajak sivitas akademika UTM melihat Amorphophallus dari perspektif yang lebih luas. Perhatian terhadap genus ini selama ini cenderung lebih kuat pada jenis yang telah memiliki nilai ekonomi, terutama porang. Padahal, masih terdapat jenis-jenis lain yang hidup secara alami di habitat hutan dan belum banyak dikenal maupun dikaji.

“Biodiversitas tidak boleh hanya diperhatikan ketika memiliki nilai ekonomi. Jenis yang belum memiliki nilai ekonomi pun tetap memiliki nilai ekologis dan ilmiah yang penting untuk dilestarikan,” menjadi salah satu pesan utama yang dibawa dalam kegiatan tersebut.

Menyingkap Keragaman Amorphophallus di Jawa

Salah satu bagian yang menarik dalam guest lecture adalah pemaparan hasil pengamatan Amorphophallus di Jawa Tengah. Dari tujuh lokasi pengamatan ditemukan 144 varian Amorphophallus dengan variasi morfologi yang cukup tinggi, terutama pada pola dan warna tangkai daun (petiole). Temuan tersebut menunjukkan bahwa biodiversitas Amorphophallus di Indonesia masih menyimpan banyak hal yang perlu dipelajari. Keragaman morfologi yang tinggi juga menunjukkan pentingnya dokumentasi dan identifikasi yang lebih mendalam untuk memahami status serta hubungan antarjenis.

Karena itu, pendekatan identifikasi tidak hanya dilakukan berdasarkan karakter morfologi, tetapi juga dapat diperkuat melalui pendekatan molekuler seperti DNA barcoding. Integrasi antara data morfologi dan molekuler diharapkan dapat membantu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai keragaman dan identitas Amorphophallus.

Membawa Amorphophallus di Tanah Jawa ke Malaysia

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Baiq Farhatul Wahidah, M.Si. juga membagikan buku Amorphophallus di Tanah Jawa kepada sivitas akademika UTM.

Buku tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sekaligus mendiseminasikan pengetahuan mengenai Amorphophallus yang ditemukan di Pulau Jawa. Kehadiran buku tersebut di lingkungan akademik UTM diharapkan dapat menjadi jembatan pertukaran pengetahuan mengenai biodiversitas tumbuhan tropis antara Indonesia dan Malaysia.

Bagi Dr. Baiq, dokumentasi menjadi bagian penting dari perjuangan konservasi. Kekayaan tumbuhan yang tidak terdokumentasi dengan baik akan lebih sulit dikenali, dipahami, dan diperjuangkan keberadaannya.

Dari Amorphophallus Menuju Kolaborasi Konservasi

Guest lecture di Faculty of Science UTM juga menjadi ruang untuk membuka peluang kolaborasi penelitian dan konservasi antara UIN Walisongo Semarang dan akademisi/peneliti di Malaysia.

Diskusi diarahkan pada kemungkinan pengembangan berbagai kajian, antara lain DNA barcoding, studi populasi, etnobotani, budidaya, konservasi ex situ, hingga perlindungan habitat. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kajian Amorphophallus, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi penelitian biodiversitas tumbuhan tropis.

Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia perlu diperjuangkan melalui berbagai jalur: pendidikan, penelitian, dokumentasi, publikasi, dan kolaborasi internasional.

Bagi Tim UIN Walisongo Semarang, memperkenalkan Amorphophallus di UTM bukan sekadar berbicara tentang satu genus tumbuhan. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan bagian dari misi untuk membawa biodiversitas Indonesia ke ruang akademik internasional, agar semakin dikenal, dipahami, dan mendapatkan perhatian untuk konservasi.

Dari Jawa ke Malaysia, dari Amorphophallus menuju kolaborasi, pesan yang dibawa sederhana tetapi penting:

Kenali biodiversitasnya, dokumentasikan kekayaannya, teliti potensinya, dan bersama-sama perjuangkan kelestariannya.